masukkan script iklan disini
LABUHAN DELI || MataNetizenNews.com – Di balik keterbatasan ruang dan waktu, setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk menemukan ketenangan, memperkuat keyakinan, serta melakukan perubahan dalam diri. Semangat tersebut tercermin dalam kegiatan pembinaan kerohanian bagi warga binaan beragama Buddha di Ruang Moralitas Rutan Kelas I Labuhan Deli, Kamis (8/10/2026).
Kegiatan diawali dengan pelaksanaan ibadah yang berlangsung khidmat. Selanjutnya, warga binaan mengikuti sharing Dharma bersama Dharmaduta, Karyadi. Dalam suasana penuh kekeluargaan, para warga binaan diberikan kesempatan untuk memperdalam nilai-nilai ajaran Buddha sekaligus melakukan refleksi terhadap perjalanan hidup yang tengah mereka jalani.
Sharing Dharma tidak hanya menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman keagamaan, tetapi juga menjadi ruang untuk menumbuhkan ketenangan batin, pengendalian diri, serta kesadaran untuk menjalani kehidupan dengan penuh kebaikan.
Dalam kesempatan tersebut, Karyadi selaku Dharmaduta menyampaikan bahwa setiap manusia memiliki kesempatan untuk berubah dan menjadi pribadi yang lebih baik. Masa menjalani pembinaan di Rutan, menurutnya, dapat dimanfaatkan sebagai momentum untuk melakukan introspeksi sekaligus mempersiapkan diri sebelum kembali ke tengah masyarakat.
“Jangan melihat masa di Rutan hanya sebagai keterbatasan, tetapi jadikan sebagai kesempatan untuk berhenti sejenak, melihat ke dalam diri, dan menumbuhkan kebaikan. Semoga melalui Dharma yang kita pelajari bersama, muncul ketenangan, kekuatan, dan harapan untuk menjalani kehidupan yang lebih baik setelah kembali ke masyarakat,” ujar Karyadi.
Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa proses pembinaan warga binaan tidak hanya berkaitan dengan kedisiplinan dan kehidupan selama berada di dalam Rutan, tetapi juga menyentuh aspek mental, moral, dan spiritual.
Melalui pembinaan keagamaan yang dilaksanakan secara berkelanjutan, Rutan Kelas I Labuhan Deli berupaya memberikan ruang kepada setiap warga binaan untuk menjalankan ibadah sesuai agama dan kepercayaannya masing-masing.
Kehadiran pembimbing serta tokoh keagamaan diharapkan dapat memberikan energi positif, memperkuat mental, dan menumbuhkan motivasi warga binaan untuk terus melakukan perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.
Bagi warga binaan beragama Buddha, kegiatan sharing Dharma tersebut menjadi lebih dari sekadar rutinitas keagamaan. Kegiatan ini menjadi ruang untuk menenangkan pikiran, melakukan introspeksi, membangun harapan, dan menata kembali langkah sebelum nantinya kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Pada akhirnya, pembinaan bukan sekadar tentang menjalani masa pidana, melainkan tentang memberikan kesempatan kepada setiap individu untuk berubah. Dan setiap perubahan selalu berawal dari kemauan yang tumbuh dari dalam diri.
(Red)




