masukkan script iklan disini
TANGERANG SELATAN || MataNetizenNews.com – Peserta Pelatihan Kepemimpinan Pengawas (PKP) Angkatan 2 Kelompok Genap Tahun 2026 mendalami praktik kepemimpinan berbasis kinerja, pengembangan inovasi, dan peningkatan pelayanan publik melalui Studi Lapangan (STULA) Kajian Pelayanan Publik di Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappelitbangda) Kota Tangerang Selatan, pada 7–9 Oktober 2026.
Kegiatan yang didampingi Widyaiswara Pendamping, Drs. Agust Nadeak, M.Si., tersebut menjadi sarana pembelajaran langsung bagi peserta untuk memahami penerapan tata kelola organisasi, pengukuran kinerja, pemanfaatan teknologi informasi, pengelolaan sumber daya, serta kolaborasi dalam penyelenggaraan pemerintahan daerah.
Bappelitbangda Kota Tangerang Selatan dipilih sebagai lokus studi karena memiliki peran strategis dalam perencanaan pembangunan daerah, termasuk mengintegrasikan data, aspirasi masyarakat, kebijakan pemerintah, penelitian, dan inovasi melalui koordinasi lintas perangkat daerah.
Kepemimpinan Berbasis Kinerja Jadi Pembelajaran
Salah satu aspek yang menjadi perhatian peserta adalah penerapan sistem pengukuran kinerja yang terstruktur dan terukur. Dalam Perjanjian Kinerja Tahun 2026, Bappelitbangda menetapkan empat sasaran dengan delapan indikator kinerja yang kemudian dijabarkan melalui pohon kinerja dan cascading.
Komitmen terhadap peningkatan kinerja juga terlihat dari tindak lanjut atas tujuh rekomendasi Inspektorat dalam Laporan Hasil Evaluasi (LHE) AKIP Tahun 2024. Upaya tersebut dilakukan melalui penyusunan SOP monitoring dan evaluasi, pengukuran kinerja individu, serta pemanfaatan aplikasi e-SAKIP untuk pengumpulan, pengukuran, dan evaluasi data kinerja.
Hasilnya, Bappelitbangda Kota Tangerang Selatan meraih predikat A dengan nilai SAKIP 87,15 pada tahun 2024.
Praktik tersebut memberikan pemahaman kepada peserta bahwa kepemimpinan yang efektif tidak hanya berorientasi pada pencapaian target, tetapi juga membutuhkan sistem pengukuran yang jelas, evaluasi berkelanjutan, serta tindak lanjut atas rekomendasi sebagai bagian dari perbaikan organisasi.
SISTARI Perkuat Ekosistem Riset dan Inovasi Daerah
Selain aspek kinerja, peserta PKP juga mendalami pengembangan ekosistem riset dan inovasi daerah melalui SISTARI (Sistem Informasi Riset dan Inovasi Daerah).
SISTARI merupakan basis data digital yang menghimpun informasi riset, inovasi, produk hukum, dan panduan. Sistem ini menjadi bagian dari ekosistem inovasi yang terhubung dengan KREASI-IN, Teknologi Tepat Guna (TTG), Pemeringkatan Inovasi Perangkat Daerah (PIPD), Innovative Government Award (IGA), dan I2 Expo.
Melalui ekosistem tersebut, proses inovasi diarahkan agar berjalan secara berkesinambungan, mulai dari pendataan, penciptaan inovasi, penilaian, diseminasi, penerapan dan replikasi, hingga pemutakhiran data kembali ke SISTARI.
Peserta menilai praktik tersebut menjadi pembelajaran penting bahwa inovasi tidak cukup hanya dibuat atau diikutsertakan dalam perlombaan. Inovasi harus didokumentasikan, dievaluasi, disebarluaskan, diterapkan, dan dikembangkan agar manfaatnya dapat dirasakan secara berkelanjutan.
Pelayanan Publik Diperkuat melalui Partisipasi Masyarakat
Dalam aspek pelayanan publik, Bappelitbangda Kota Tangerang Selatan telah menetapkan Standar Pelayanan melalui Keputusan Kepala Bappelitbangda Nomor 100.3.3/Kep-037/Bappelitbangda/I/2024 tanggal 8 Januari 2024.
Standar tersebut mencakup empat jenis layanan, yakni Jaring Asmara Perencanaan Pembangunan, Penyelarasan Dokumen Perencanaan Daerah, Fasilitasi Rekomendasi Riset bagi Warga Negara Asing (WNA), serta Fasilitasi Pengembangan Inovasi di Daerah.
Salah satu praktik yang menjadi perhatian adalah Jaring Asmara atau Penjaringan Aspirasi Masyarakat. Selain melalui Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) secara tatap muka, masyarakat juga dapat menyampaikan usulan secara daring melalui Sistem Informasi Pemerintahan Daerah Republik Indonesia (SIPD RI).
Pada 2026, target usulan yang terverifikasi di tingkat kecamatan mencapai 1.000 usulan, meningkat dibandingkan target 400 usulan pada 2024.
Bappelitbangda juga mengembangkan Musrenbang tematik yang menyasar sejumlah isu strategis, antara lain inklusi, stunting, kemiskinan, ekonomi kreatif, kepemudaan, dan pembiayaan non-APBD.
Praktik tersebut menunjukkan pentingnya membuka ruang partisipasi masyarakat sekaligus mengembangkan mekanisme perencanaan yang lebih responsif terhadap kebutuhan pembangunan daerah.
Kolaborasi Menjadi Kekuatan Organisasi
Studi lapangan turut memberikan gambaran mengenai pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam mendukung keberhasilan program dan inovasi.
Dalam pengembangan inovasi daerah, Bappelitbangda melibatkan perangkat daerah, akademisi, masyarakat, inovator, dunia usaha, serta berbagai pemangku kepentingan lainnya.
Pola kerja kolaboratif tersebut menjadi pembelajaran bagi peserta PKP bahwa keterbatasan sumber daya dapat diatasi melalui penguatan jejaring, pembagian peran yang jelas, dan sinergi antarpihak.
Dengan demikian, keberhasilan organisasi tidak hanya bergantung pada kemampuan internal, tetapi juga pada kapasitas membangun kerja sama untuk menjawab persoalan yang semakin kompleks.
Peserta Rumuskan Rekomendasi Pengukuran Dampak SISTARI
Berdasarkan pengamatan, diskusi, wawancara, dokumentasi, dan analisis kelompok, peserta PKP Angkatan 2 Kelompok Genap merumuskan sejumlah pembelajaran utama.
Di antaranya, target kinerja harus terukur dan diterjemahkan ke dalam sistem kerja organisasi; evaluasi perlu dijadikan dasar perbaikan, bukan ancaman; inovasi harus dikelola secara berkelanjutan; serta kolaborasi menjadi faktor penting dalam menghadapi keterbatasan sumber daya.
Sebagai bagian dari hasil analisis, kelompok peserta memberikan rekomendasi berupa penyusunan alat ukur pencapaian kinerja aplikasi SISTARI untuk menilai dampaknya terhadap peningkatan pelayanan publik.
Salah satu pendekatan yang diusulkan adalah melalui Survei Kepuasan Pengguna Layanan berbasis digital. Dengan instrumen tersebut, keberhasilan SISTARI diharapkan tidak hanya dinilai dari keberadaan atau tingkat penggunaan aplikasi, tetapi juga dari manfaat nyata yang dirasakan pengguna layanan.
Rekomendasi ini menegaskan pentingnya menghubungkan pemanfaatan teknologi dengan peningkatan kualitas pelayanan publik yang dapat diukur dan dievaluasi.
STULA Jadi Bekal Aksi Perubahan Peserta PKP
Melalui kegiatan STULA, peserta memperoleh pemahaman bahwa keberhasilan organisasi pemerintahan tidak hanya ditentukan oleh regulasi, anggaran, maupun teknologi. Kepemimpinan yang mampu menggerakkan perubahan, target yang terukur, evaluasi yang terbuka, kolaborasi, dan inovasi berkelanjutan merupakan unsur penting dalam meningkatkan kinerja organisasi dan kualitas pelayanan publik.
Praktik Bappelitbangda Kota Tangerang Selatan menjadi salah satu referensi pembelajaran dalam mengintegrasikan kepemimpinan, perencanaan pembangunan, riset, inovasi, dan pelayanan publik.
Di sisi lain, hasil studi juga mengidentifikasi ruang perbaikan yang masih perlu diperhatikan, antara lain keterbatasan jabatan fungsional, integrasi data, dan keselarasan dokumen.
Bagi peserta PKP, pengalaman tersebut diharapkan menjadi bahan refleksi yang dapat diadaptasi sesuai kebutuhan dan karakteristik organisasi masing-masing, khususnya dalam merancang serta melaksanakan proyek perubahan atau aksi perubahan di unit kerja.
Dengan demikian, studi lapangan tidak sekadar menjadi kegiatan pembelajaran di luar kelas, tetapi juga menjadi langkah untuk memperkuat kapasitas kepemimpinan pengawas dalam mendorong organisasi pemerintahan yang lebih adaptif, inovatif, terukur, dan berorientasi pada pelayanan publik.
(Redaksi)




