Iklan

Komisaris Pelindo Arief Poyuono Gagas ADHARA, Platform Rantai Pasok Logistik Nasional untuk Perkuat Daya Saing Indonesia

Admin : Gunawan
Jumat, 24 Juli 2026, 23.45 WIB Last Updated 2026-07-25T06:50:02Z
masukkan script iklan disini
masukkan script iklan disini


MEDAN || MATANETIZENNEWS.COM – Komisaris PT Pelabuhan Indonesia (Persero), Arief Poyuono,SE, M. Kom mengemukakan gagasan besar mengenai reformasi rantai pasok (supply chain) dan logistik nasional melalui konsep ADHARA, sebuah platform terintegrasi yang menghubungkan pelaku usaha, logistik, perbankan, hingga pembiayaan ekspor dalam satu ekosistem digital (25/07/26).

Menurut Arief, tantangan utama logistik Indonesia saat ini bukan hanya keterbatasan infrastruktur fisik, melainkan belum terintegrasinya sistem distribusi, administrasi kepabeanan, kepastian waktu pengiriman, serta pembiayaan rantai pasok.

Mengacu pada World Bank Logistics Performance Index, biaya logistik Indonesia masih berada di kisaran 23–24 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), jauh lebih tinggi dibanding negara-negara industri yang berada pada kisaran 8–12 persen.

"Reformasi logistik bukan sekadar membangun jalan, pelabuhan, atau gudang, tetapi membangun arsitektur sistem yang mengintegrasikan data, distribusi, pembiayaan, dan kepastian layanan," ujar Arief.

Ia menjelaskan, dalam ekonomi modern, distribusi tidak lagi hanya memindahkan barang dari produsen ke konsumen, tetapi menjadi sistem koordinasi berbasis data yang menghubungkan permintaan pasar, persediaan, produksi, hingga pembiayaan secara real time.

Sebagai solusi, Arief menawarkan konsep ADHARA yang berfungsi sebagai platform rantai pasok nasional. Melalui sistem ini, seluruh proses bisnis ekspor dapat dipantau secara digital, mulai dari perencanaan produksi, pembiayaan, pengawasan kualitas, hingga pengiriman barang kepada pembeli di luar negeri.

Platform tersebut juga diharapkan mampu memberikan jaminan kepada perbankan maupun pembeli internasional sehingga pelaku usaha dalam negeri lebih mudah memperoleh pembiayaan dan kontrak ekspor jangka panjang.

Selain integrasi digital, Arief menilai Indonesia perlu memperkuat angkutan logistik berbasis kereta api dan kapal laut, membangun pusat logistik modern di berbagai wilayah, serta mengembangkan kawasan ekonomi khusus (KEK) yang berada di jalur strategis perdagangan dunia seperti Selat Malaka, Selat Sunda, Selat Lombok, dan Selat Makassar.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan investasi di bidang riset, inovasi, dan teknologi agar industri nasional mampu membangun rantai pasok yang efisien dan berdaya saing global.

Menurutnya, kekuatan sebuah negara tidak lagi hanya ditentukan oleh besarnya sumber daya alam, tetapi oleh kemampuan mengelola supply chain yang terintegrasi dengan sistem logistik dan pembiayaan.
"Jika Indonesia memiliki rantai pasok yang kuat dan terhubung dalam satu ekosistem, maka industri nasional akan semakin kompetitif, nilai tambah ekspor meningkat, impor bahan baku dapat ditekan, dan ketahanan ekonomi nasional menjadi lebih kokoh," tegasnya.

Arief optimistis, melalui reformasi logistik yang terencana dan didukung teknologi, Indonesia memiliki peluang besar menjadi pusat rantai pasok kawasan sekaligus meningkatkan daya saing industri di tingkat global.

(Faisal)
Komentar

Tampilkan

Terkini